KAMI HANYA BISA PASRAH
(refleksi atas ketidak adilan pada rakyat)
dalam buaian, kudekap kau dengan tangis
ketika para setan liar
menari dengan lirik jeritan langit
lalu para dewa mengkonserkan kemurkaan
bumipun bergetar
hambar oleh tatapan yang tak dapat dimengerti
inikah hidup?
Kemudian kau datang membawa secawan harapan
yang kau tuang di setiap langkah
dan akupun paham
tentang semuanya
“keindahan hanya sekedip
semua kebahagiaan hanya pengusap kerongkongan hidup
pelepas dahaga akan darah
yang bersimbah atas nama keadilan”
akhirnya kamu berpaling
menengadahkan sumpah juga janji
akan penderitaan yang menghantu
“Tenanglah kiamat kemakmuran baru akan dimulai”
kau mengawali kalimat serapahmu.
Sungguh kami bisa menerka
kamu hanyalah pembuat lorong-lorong duka
penggali lubang luka
penyiram derita
akan kuburan tanpa cinta
Kami hanya bisa pasrah
pada denyutan nyawa yang tak berirama
kami hanya bisa diam
karena gerak beku dan bahasa bisu
Lalu, haruskah kami melawan?
sedang kau sudah kami angkat sebagai penopang
kesejahteraan.
(refleksi atas ketidak adilan pada rakyat)
dalam buaian, kudekap kau dengan tangis
ketika para setan liar
menari dengan lirik jeritan langit
lalu para dewa mengkonserkan kemurkaan
bumipun bergetar
hambar oleh tatapan yang tak dapat dimengerti
inikah hidup?
Kemudian kau datang membawa secawan harapan
yang kau tuang di setiap langkah
dan akupun paham
tentang semuanya
“keindahan hanya sekedip
semua kebahagiaan hanya pengusap kerongkongan hidup
pelepas dahaga akan darah
yang bersimbah atas nama keadilan”
akhirnya kamu berpaling
menengadahkan sumpah juga janji
akan penderitaan yang menghantu
“Tenanglah kiamat kemakmuran baru akan dimulai”
kau mengawali kalimat serapahmu.
Sungguh kami bisa menerka
kamu hanyalah pembuat lorong-lorong duka
penggali lubang luka
penyiram derita
akan kuburan tanpa cinta
Kami hanya bisa pasrah
pada denyutan nyawa yang tak berirama
kami hanya bisa diam
karena gerak beku dan bahasa bisu
Lalu, haruskah kami melawan?
sedang kau sudah kami angkat sebagai penopang
kesejahteraan.
Pengharapan
Seluruh gerak sudah kupersembahkan,
seluruh keringat terkuras habis,
mengapa engkau masih diam?
Lalu airmata kutumpahkan,
Liris pengharapan di bawah kakimu,
tapi engkau masih angkuh,
hingga kutinggalkan ragaku untukmu
biar menjadi patung di hadapanmu
dan nyawa kubiarkan gentayangan
meninggalkan engkau.
Seluruh gerak sudah kupersembahkan,
seluruh keringat terkuras habis,
mengapa engkau masih diam?
Lalu airmata kutumpahkan,
Liris pengharapan di bawah kakimu,
tapi engkau masih angkuh,
hingga kutinggalkan ragaku untukmu
biar menjadi patung di hadapanmu
dan nyawa kubiarkan gentayangan
meninggalkan engkau.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar