Resensi
Novel
PERAHU
KERTAS
(Tugas
Bahasa Indonesia ke-4)
Di
susun oleh :
Nama
: Siti Yunita Handayani
Npm
: 16211835
Kelas
: 3EA16
FAKULTAS
EKONOMI
UNIVERSITAS
GUNADARMA
Judul : Perahu Kertas
Penulis :
Dewi Lestari
Penerbit
:
Bentang Pusaka
Tanggal
Terbit : Agustus 2009
Tebal
Halaman : 444 halaman
Harga : Rp 35.000,-
PERAHU KERTAS
Sebuah novel yang
berjudul “ Perahu Kertas” adalah novel yang dibuat oleh Dewi Lestari. Ia
membuat novel ini dengan mengangkat tema persahabatan 4 sekawan yang easy
reading dan heart catching untuk para pembaca dari berbagai lapisan usia.
Dikemas dengan bahasa dan pendeskripsian keadaan yang lugas tetapi penuh syarat
akan nilai-nilai serta makna kehidupan. Tidak hanya bercerita tentang remaja,
tetapi bercerita tentang dinamika kehidupan empat orang remaja serta
korelasinya dengan lingkungan internal. Ditambah lagi dengan penggambaran setting waktu dan tempat
yang sangat detail. Tetapi tidak berlebihan seakan membuat seolah kita ikut
terlibat di dalamnya.
Novel ini dimulai dengan
keenan, seorang remaja pria yang baru lulus SMA, yang selama enam tahun tinggal
di Amsterdam bersama neneknya. Keenan merupakan sosok yang cerdas dan memiliki
bakat melukis yang sangat kuat, dan ia tidak punya cita-cita lain selain
menjadi pelukis. Tapi perjanjian dengan ayahnya memaksa ia meninggalkan
Amsterdam dam kembali ke Indonesia untuk kuliah. Keenan diterima berkuliah di
Bandung, di Fakultas Ekonomi sesuai keinginan ayahnya.
Di sisi lain, ada kugy,
cewek unik cenderung memiliki penampilan berantakan, namun ia memiliki
imaginasi yang tinggi. Ia juga akan berkuliah di Universitas yang sama dengan
keenan. Sejak kecil, kugy menggila-gilai dongeng. Tak hanya koleksi dan puny
ataman bacaan, ia juga senang menulis dongeng. Cita-citanya hanya satu yaitu
ingin menjadi juru dongeng. Namun kugy sadar bahwa penulis dongeng bukanlah
profesi yang menyakinkan dan mudah diterima di lingkungan. Tak ingin lepas dari
dunia menulis, kugy meneruskan studinya di Fakultas Sastra.
Kugy dan keenan di
pertemukan lewat pasangan eko dan noni. Eko adalah sepupu keenan, sementara Noni
adalah sahabat Kugy sejak kecil. Terkecuali Noni, mereka semua hijrah dari
Jakarta, lalu berkuliah di Universitas yang sama di Bandung. Mereka berempat
akhirnya bersahabat karib. Lambat laun, Kugy dan Keenan yang memamg sudah saling mengagumi, mulai
mengalami transformasi. Diam-diam, tanpa pernah berkesempatan untuk
mengungkapkan, mereka saling jatuh cinta. Namun kondisi saat itu serba tidak
memungkinkan. Kugy sudah punya kekasih, cowok bernama Joshua, alias Ojos
(panggilan yang dengan semena-mena diciptakan oleh Kugy). Sementara Keenan saat
itu dicomblangkan oleh Noni dan Eko dengan seorang kurator muda bernama Wanda,
sesosok gadis yang sama berbakat dengan Keenan. Keduanya berbakat menjadi
pelukis namun kedua orang tua mereka jugalah yang tidak setuju karena orang tua
mereka berpendapat bahwa lukisan tidak bisa menghasilkan uang untuk hidup.
Karena merasa senasib, hubungan keduanya semakin dekat.
Namun, saat Kugy
melihat hal itu , ia seperti cemburu namun ia juga berusaha untuk menampiknya.
Entah apa yang ada dibenak Wanda hingga ia mau melakukan apa saja demi menunjukkan
rasa cintanya pada Keenan. Dan ia pun
berhasil membuat Keenan menjadi kekasihnya. Saat mendengar bahwa Wanda dan
Keenan sudah menjadi sepasang kekasih, Kugy seakan ditombak peluru tepat pada
dadanya. Kugy tak tahu apa yang ia rasakan. Kugy bingung dengan perasaannya
sendiri. Disatu sisi, ia memiliki Ojos, kekasihnya. Namun disatu sisi ia merasa
ada special feeling buat Keenan. Ojos mulai merasakan perubahan sikap pada
Kugy. Ia merasa Kugy sudah tak peduli lagi padanya. Hingga akhirnya, hubungan
mereka kandas.
Persahabatan empat
sekawan itu mulai merenggang. Kugy lantas menenggelamkan dirinya dalam
kesibukan baru, yakni menjadi guru relawan di sekolah darurat bernama Sakola
Alit. Di sanalah ia bertemu dengan Pilik, muridnya yang paling nakal. Pilik dan
kawan-kawan berhasil ia taklukkan dengan cara menuliskan dongeng tentang kisah
petualangan mereka sendiri, yang diberi judul “Jenderal Pilik Dan Pasukan
Alit”. Kugy menulis kisah tentang murid-muridnya itu hampir setiap hari dalam
sebuah buku tulis, yang kelak ia berikan pada Keenan.
Hubungan Keenan dengan
Wanda yang awalnya mulus pun mulai berubah. Wanda berfikir, Keenan tak
sepenuhnya mencintainya hingga mereka berdua menghadapi konflik besar dan
akhirnya mereka kandas juga. Saat dua pasang kekasih itu tak lagi menjalin
cinta. Keenan disadarkan dengan cara yang mengejutkan bahwa impian yang selama
ini ia bangun harus kandas dalam semalam. Dengan hati hancur, Keenan
meninggalkan kehidupannya di Bandung, dan juga keluarganya di Jakarta. Ia lalu
pergi ke Ubud, tinggal di rumah sahabat ibunya, Pak Wayan.
Masa-masa bersama
keluarga Pak Wayan, yang semuanya merupakan seniman-seniman sohor di Bali.
Mulai mengobati luka hati Keenan pelan-pelan. Sosok yang paling berpengaruh
dalam penyembuhannya adalah Luhde Laksmi, keponakan Pak Wayan. Keenan mulai
bisa melikis lagi. Berbekalkan kisah-kisah “Jenderal Pilik Dan Pasukan Alit”
yang diberikan Kugy padanya. Keenan menciptakan lukisan serial yang menjadi
terkenal dan diburu para kolektor.
Kugy, yang juga snagat
kehilangan sahabat-sahabatnya dan mulai kesepian di Bandung, menata ulang
hidupnya. Ia lulus kuliah dengan cepat dan langsung bekerja di sebuah biro
iklan di Jakarta sebagai copywriter. Di sna, ia bertemu dengan Remigius,
atasannya sekaligus sahabat abangnya. Kugy meniti karier dengan cara tak
terduga-duga. Pemikirannya yang ajaib dan serba spontan membuat ia menjadi
orang yang diperhitungkan di kantor itu. Namun Remi melihat sesuatu yang lain.
Ia menyukai Kugy bukan karena ide-idenya, tapi juga semangat dan kualitas unik
yang senantiasa terpancar dari Kugy. Dan akhirnya Remi harus mengakui bahwa ia
mulai jatuh hati. Sebaliknya, ketulusan Remi juga meluluhkan hati Kugy.
Sayangnya, Keenan tidak
bisa selamanya tinggal di Bali. Karena kondisi kesehatan ayahnya yang memburuk,
Keenan terpaksa kembali ke Jakarta, menjalankan perusahaan keluarganya karena
tidak punya pilihan lain. Walaupun Keenan melakukan “long-distance” dengan
Luhde dan Kugy tidak bisa selalu bertemu tiap hari dengan Remi, hubungan mereka
baik-baik saja. Mereka merasa telah menemukan cinta masing-masing. Namun, hal
tersebut tak bertahan lama. Luhde merasa hati Keenan tak sepenuhnya untuk dirinya
dan Remi pun juga merasa seperti itu. Dan pada akhirnya lukisan dan dongeng itu
bersatu serta hati dan impian mereka bertemu.
Pertemuan antara Kugy
dan Keenan tidak terelakkan. Bahakan empat sekawan ini bertemu lagi. Semua
dengan kondisi yang sudah berbeda. Dan kembali, hati mereka diuji. Kisah cinta
dan persahabatan selama lima tahun ini pun berakhir dengan kejutan bagi
semuanya. Akhirnya setiap hati hanya bisa kembali pasrah dalam aliran cinta
yang mengalir entah ke mana. Seperti perahu kertas yang dihanyutkan di parit,
di empang, di kali, di sungai, tapi selalu bermuara di tempat yang sama. Meski
kadang pahit, sakit, dan meragu, tapi hati sesungguhnya selalu tahu.
Biografi
pengarang :
Dewi Lestari,
yang bernama pena Dee, lahir di Bandung, 20 januari 1976. Novel Perahu Kertas
ini sudah lebih dulu versi digital (WAP) pada April 2008, dan kini diterbitkan
atas kerja sama antara Truedee Books dan Bentang Pustaka. Naskah yang awalnya
ditulis pada tahun 1996 dan sempat ‘mati suri’ selama 11 tahun ini akhirnya
ditulis ulang oleh Dee pada akhir 2007, menjadikan Perahu Kertas sebagai novel
pertamanya yang bergenre popular.
Tokoh
:
·
Kugy_orang
yang bertubuh kecil, mungil, dan berpenampilan berantakan santai ala kadarnya.
Dari benaknya mengalir banyak untaian dongeng yang indah.
·
Keenan_seorang
pemuda tampan, cerdas, artistik, dan penuh kejutan. Dari tangan tercipta
lukisan-lukisan magis.
·
Noni_teman
kugy dari kecil. Bawel, tapi ia sangat sayang pada kugy.
·
Eko_pacar
noni. Teman sekolah kugy saat masih duduk dibangku SMP.
·
Ojos_
pacar
kugy yang pertama.
·
Wanda_seorang
kurator muda, pintar, dan berbakat seperti keenan.
·
Remi_pengusaha
biro iklan sekaligus atasan di tempat kugy bekerja, dan kekasih kugy sebelum
bertemu keenan kembali.
·
Luhde_keponakan
pak wayan dan kekasih keenan saat di Ubud, Bali.
·
Pak
wayan_teman ibunya keenan dan memiliki bakat melukis sama
dengan keenan.
Tema
: persahabatan, impian, dan percintaan
Alur
: Dilihat
dari cerita novel ini, terjadi alur maju mundur artinya dalam cerita terjadi
flashback ke masa lalu dan kejadian masa depan.
Sudut
Pandang : Dalam novel, sudut pandang yang digunakan adalah
orang ketiga tunggal.
Gaya
Bahasa : Bahasa yang digunakan dalam novel ini adalah gaya
bahasa yang mengikuti perkembangan zaman sekarang (modern) dan sesuai dengan
kondisi masyarakat sekarang sehingga novel dapat dengan mudah dimengerti.
Tempat
: Jakarta, Bandung, Bali
Kelebihan
: Penulis
dalam novel ini menggunakan bahasa-bahasa yang komunikatif sehingga mudah
dipahami oleh para pembacanya dari berbagai kalangan. Selain itu, novel ini
mengandung nilai-nilai yang sangat penting untuk dijadikan pelajaran , seperti
persahabatan, percintaan, perjuangan, semangat, dan impian.
Kekurangan
: Pembaca
cenderung dapat menebak akhir dari cerita novel ini.
Kesimpulan
dan Penutup :
Kisah yang
diceritakan dalam novel ini penuh dengan konflik batin, sulit untuk melepaskan
perasaan yang sudah tertanam begitu dalam hati seseorang. Rumit, dan banyak
kejadian yang seharusnya mudah untuk diselesaikan namun karena ego
masing-masing pihak.
Novel
ini juga mengajarkan bahwa kita harus yakin dengan apa yang kita lakukan. Hobi
adalah pekerjaan paling menyenangkan. Menjadi diri sendiri, bebas, dan berkarya
apapun hasilnya, namun kepuasan batin dan menyenangkan orang banyak dengan
hasil karya pribadi yang mencerminkan diri sendiri adalah makna kehidupan dan
hasil yang berharga dan tak ternilai dengan materi. Novel ini juga mengajarkan
arti persahabatan. Bahwa sesungguhnya sahabat walapun dalam masa sulit
sekalipun, tak akan bisa melihat sahabatnya terluka.
Penulis
“Dee” mampu menceritakan detail setiap tokoh dalam novel ini, sehingga dapat
membuat pembaca terjun dalam kehidupan masing-masing tokoh. Menbawa pembaca
untuk bisa menikmati setiap jalan cerita, dan membawa pembaca untuk membaca
setiap halamannya, setiap lembarnya dengan begitu antusias. Dia juga mampu
mentransformasikan pendewasaan yang sudah sewajarnya timbul dari seorang remaja
menjadi pribadi yang lebih dewasa dan menghargai arti kehidupan, persahabatan,
cinta, dan impian.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar